Banten Waspadai Tingginya Kasus DBD di Tangsel
SERANG,SNOL Sejumlah daerah di Indonesia sudah mengeluarkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Dinas Kesehatan mengklaim Banten masih aman bahkan cenderung menurun.
“Kasus DBD di Banten belum terlalu menonjol seperti di tempat-tempat lain. Hanya saja memang ada kasus DBD karena cuacanya seperti ini, hujan panas. Kita pantau dari minggu ke minggu,” kata Sigit Wardoyo Kepala Dinkes Banten kepada Satelit News, Minggu (1/2).
Informasi yang dihimpun, tahun 2014 tercatat sebanyak 2.660 kasus DBD. Tangerang Selatan (Tangsel) menempati urutan pertama tertinggi, dengan jumlah 570 kasus. Disusul Kota Tangerang 472 kasus, Kota Cilegon 428 kasus, Kabupaten Tangerang 315 kasus, Kabupaten Lebak 289 kasus, Kabupaten Serang 284 kasus, Kota Serang 188 kasus, dan Kabupaten Pandeglang 114 kasus.
Terjadinya peningkatan penyakit DBD tersebut disebabkan pola hidup masyarakat yang kurang menjaga lingkungannya serta adanya perubahan cuaca. Selain itu juga terjadi perpindahan sumber penyakit tersebut yang merata ke daerah yang suhunya hangat.
“Kuncinya adalah menjaga kesehatan lingkungan seperti mengubur, menguras barang-barang bekas dan menaburkan abate,” kata Sigit.
Saat ini ada perubahan tingkah laku nyamuk DBD yang tadinya di pantai dan dataran rendah sekarang sudah naik ke dataran tinggi. Kemudian dulu di air jernih sekarang berkembang juga di air yang kotor.
“Kami di provinsi memiliki kewenangan yang terbatas, makanya harus dioptimalkan oleh dinas terkait di kabupaten/kota. Setiap rapat kordinasi selalu kami sampaikan,” katanya.
Guna mencegah perkembangbiakan nyamuk yang hidup di air bersih tersebut, pihaknya menggalakkan fooging atau pengasapan, penyebaran bubuk abate, hingga meningkatkan keaktifan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di setiap desa dan kelurahan. Tenaga medis di tingkat Puskesmas pun di dorong untuk lebih menggiatkan sosialisasi Menutup, Mengubur, dan Menguras (3M).
Meski belum lama ini, kasus demam berdarah di Kabupaten Lebak, menelan satu korban meninggal yakni seorang anak di bawah lima tahun pada Sabtu (24/1). Berdasarkan data penderita DBD di Lebak sejak Januari 2015 tercatat lima kasus DBD. Dua diantaranya warga Rancapinang, Rangkasbitung.
“Kita menginginkan mencegah itu kan lebih baik dari pada pengobatan. Yang jelas enggak ada peningkatan yang drastis, masih landai-landai aja,” terangnya.
Kasi Pemberantasan Penyakit Dinkes Banten, Yosan Apriadi mengatakan, Puskesmas mewaspadai penyebaran penyakit DBD sehubungan curah hujan cenderung meningkat selama beberapa pekan terakhir. Biasanya, curah hujan tinggi bisa menimbulkan penyebaran penyakit DBD melalui gigitan nyamuk aedes aegypti yang berkembang pada genangan air itu.
Selain giatkan program 3M, masyarakat juga mengenakan kelambu, menggunakan obat nyamuk, menutup lubang potongan bambu dan menyebar abate di kamar mandi. Gerakan PSN ini, untuk mencegah kasus KLB berbagai penyakit menular, diantaranya DBD.
“Kami berharap petugas Puskesmas dan masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan penyakit DBD agar tidak terjadi kasus KLB,” katanya. (metty/jarkasih/satelitnews)
