Di Viena, Rentang Berbuka hingga Imsak Sangat Pendek
Tahun ini merupakan kali ketiga saya menjalani puasa Ramadan di Wina, Austria. Banyak suka dan duka yang saya rasakan selama melaksanakan ibadah suci bagi umat muslim di dunia ini. Berikut secuil kisah pengalaman tersebut yang saya tuangkan dalam catatan ringan ini.
Berpuasa di Eropa menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah warga muslim Indonesia, termasuk saya. Sejak 2010 lalu, saya sudah 3 kali menjalani puasa Ramadan di Austria. Dan sejak tahun itu juga, puasa Ramadan jatuh pada saat musim panas. Suhu udara rata-rata di Eropa saat musim panas, termasuk Austria, bisa mencapai hingga 35 derajat Celcius.
Di musim panas, waktu siang berjalan lebih lama daripada musim-musim lainnya. Matahari “nyaris” tidak pernah tenggelam. Pada Ramadan kali ini di Austria, misalnya. Matahari sudah terbit pada pukul 04.45. Salat Subuh dimulai pukul 03.06 dan waktu imsak ditetapkan pukul 02.52. Sinar matahari baru menghilang dari peredaran sekitar pukul 20.48 waktu atau waktu Magrib. Ini berarti, setiap warga muslim di Austria yang menjalani puasa harus menahan lapar dan dahaga selama sekitar 17 jam dan 30 menit.
Austria mungkin belum seberapa jika dibandingkan negara-negara Eropa di bagian utara seperti Finlandia dan Swedia. Di negara itu, waktu puasa berjalan lebih lama sekitar 20 jam. Di Spanyol sedikit lebih ringan. Warga muslim Indonesia di Madrid harus berbuka pada pukul 21.45 atau satu jam lebih lama dari Austria.
Lolizah Dyah Pitaloka, sahabat orangtua saya yang kini menemani suaminya tugas menuturkan kesulitannya berpuasa di Madrid. “Wina (Austria, Red) masih cepet waktu buka puasanya. Di sini masih nunggu satu jam lagi setelah Wina,” tutur Lolizah yang saat itu berbincang dengan saya via sosial media.
Tantangan yang saya harus hadapi bukan hanya menahan lapar dan dahaga selama belasan jam, tapi juga menahan godaan-godaan lainnya. Namanya juga menetap di negara non-muslim, sudah tentu selama Ramadan aktivitas masyarakat sekitar tidak mengalami perubahaan, sama seperti hari-hari biasanya. Tidak ada warung atau kedai makanan yang tutup atau ditutupi kain seperti warteg-warteg di Jakarta untuk menghormati orang puasa. Di Austria, orang-orang di jalanan cuek makan dan minum. Dan yang membuat semua ini semakin komplet tantangannya adalah busana cewek-cewek di Austria. Di musim panas, Juni hingga Agustus, pakaian yang dikenakan cewek-cewek di Austria serba tipis dan pendek. Karena cuacanya panas, mereka lebih sreg memakai celana pendek dan kaos oblong, bahkan tidak sedikit yang memakai singlet atau kaos dalam. Ada juga cewek-cewek yang tidak menggunakan BH, jadi buah dadanya kelihatan meski dibalut kaos.
Langkah paling tepat untuk menghindari masalah di atas adalah dengan bertahan di rumah. Itu saya lakukan saat berpuasa kali pertama di Austria pada 2010. Saya lebih memilih menikmati hari-hari berpuasa dengan berdiam di kamar. Browsing internet untuk baca-baca berita, streaming acara-acara tivi di tanah air, nonton film, menulis cerita atau naskah berita seperti saat ini. Paling kalau mau keluar rumah, cukup pada sore hari pukul 6 hingga 7. Itu pun untuk belanja makanan atau keperluan lainnya. Maklum di musim panas, kegiatan perkuliahan tidak ada. Sekolah dan universitas diliburkan mulai Juni hingga Agustus. Setidaknya, dengan tidak adanya jadwal perkuliahan di musim panas, saya merasa terbantu menjalani ibadah puasa. Tapi itu cerita singkat pada puasa Ramadan perdana di Austria. Setelah itu, saya sudah terbiasa dengan kondisi dan masyarakat di Austria. Walaupun berat, berpuasa selama 17 jam lebih, tapi Alhamdulillah semuanya bisa dilewati dengan lancar.
Namun demikian, rintangan tetap saja ada. Hingga minggu kedua Ramadan, saya merasakan waktu sore hari adalah saat tersulit, ketika jam memasuki pukul 17.00 hingga waktu berbuka. Sebab, meski jarum jamnya sudah mengarah pukul 5 sore, tapi sinar matahari masih terasa seperti jam 2 siang di Jakarta. Bahkan pada pukul 19.00 pun, matahari masih terasa terik. Tidak seperti di Indonesia, di mana sang surya mulai bergerak turun meninggalkan cakrawala tanah air saat jarum jam mendekati angka 6.
Nah, untuk mensiasati waktu, saya kadang-kadang suka ngabuburit. Jika di tanah air, saya ngabuburit dengan bersepeda motor keliling jalanan saat masih duduk di bangku SMA, di Wina, U-bahn atau kereta bawah tanah menjadi alat transportasi yang saya gunakan untuk sekadar mengejar waktu berbuka ini.
Di Wina, untuk menggunakan transportasi kota, penumpang harus membeli tiket untuk sekali jalan seharga Euro 2 atau Rp 24 ribu (Euro 1 0 Rp 12 ribu). Karena saya memiliki kartu transportasi bulanan, jadi saya tidak perlu membayar atau membeli tiket lagi. Saya bisa menggunakan semua moda transportasi masal di Wina mulai dari kereta, tram, hingga bus secara cuma-cuma. Minggu (29/7) lalu, saya ngabuburit menggunakan jalur kereta bawah tanah U6. Saya pilih jalur U6 karena tempat tinggal saya berada di jalur U6, tepatnya di stasiun Längenfeldgasse. Selain itu juga, jalur U6 ini bisa mengantarkan kita ke masjid terbesar di Austria dengan bangunan berkubah seperti halnya masjid Istiqlal di Jakarta. Menurut data yang dikeluarkan VIC, ada sedikit 200an masjid yang tersebar di seluruh provinsi di Austria. Namun, hanya masjid VIC yang sangat istimewa, lantaran bangunannya berkubah. Masjid-masjid lainnya berbentuk rumah apartemen, seperti masjid Indonesia yang tahun ini diresmikan, masjid As-Salam Wapena di distrik 12 Wina.
Untuk menuju ke masjid Vienna Islamic Center (VIC), kita harus turun di stasiun U6 Neue Donau. Dari tempat tinggal saya di dekat stasiun Längenfeldgasse, saya harus melewati 14 stasiun untuk menuju stasiun Neue Donau. Jarak tempuhnya dari rumahnya memakan waktu kurang lebih 15 hingga 20 menit. Namun, sebelum menuju ke masjid VIC, saya berkeliling dahulu dari ujung stasiun U6 Florisdorf di utara Wina hingga stasiun terakhir U6 Siebenhirten di wilayah selatan Wina. Untuk sekali jalan bisa memakan waktu sekitar 35 hingga 45 menit. Cukup dua kali putar-putar dengan U6, waktu satu setengah jam bisa dilewati dengan cepat.
Kesulitan lain yang saya alami selama berpuasa di Austria adalah rentang waktu yang pendek antara jadwal iftar atau berbuka puasa dengan sahur, hanya sekitar 6 jam. Karena begitu cepatnya waktu berlalu usai berbuka puasa, terkadang saat sahur pada pukul 2 pagi, perut saya masih belum lapar untuk menyantap makanan lagi. Tidak jarang, saya sahur dengan makanan ringan seperti mie instan atau roti. Rentang waktu itu akan semakin cepat berjalan apabila kita menjalani salat Tarawih. Salat Tarawih di Austria dimulai sekitar pukul 22.30, beberapa menit setelah salat Isya. Di Masjid As-Salam Wapena, warga muslim Indonesia menggelar salat Tarawih selama 1 jam. Di masjid VIC lebih lama lagi, sekitar 1,5 jam. Bisa dibayangkan, sehabis menunaikan salat Tarawih, kita hanya memiliki waktu sekitar 3 jam sebelum imsak. Jadi wajar jika pada awal saya mengatakan bahwa tantangan berpuasa di Eropa pada musim panas sangat komplet. Selain waktu berpuasanya yang panjang, lebih dari 17 jam, rentang waktu antara iftar atau berbuka puasa sampai imsak sangat pendek. Tapi ini lah nikmatnya berpuasa di Eropa saat musim panas. (ahmad reza/jpnn)
