Pelabuhan Merak akan Dipasangi X-Ray
Deteksi Narkoba
MERAK, SNOL Maraknya peredaran dan penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Banten, membuat Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten, Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) berniat memasang X-ray gate atau pendeteksi narkoba di jalur penyeberangan pelabuhan Merak – Bakauheni. Keberadaan X-ray gate tersebut akan dapat meningkatkan pengawasan terhadap upaya penyelundupan pengiriman narkoba melalui jalur darat yang melintasi pelabuhan Merak.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten, Kombes Pol Heru Februanto mengatakan, jalur pelabuhan Merak ditengarai menjadi alur utama penyelundupan pengiriman narkoba melalui jalur darat. Dimana, narkoba dari Aceh, Medan dan Pekanbaru akan dikirim melalui jalur darat ke pulau Jawa. “Peredaran narkoba melalui jalur laut masih tinggi, bukan hanya di pelabuhan resmi saja tapi juga di jalur-jalur tikus,” katanya.
Menurut Heru, pemeriksaan secara manual dengan alat tidak memadai sering kali menimbulkan kecerobohan di pintu-pintu masuk di Pulau Jawa yaitu Pelabuhan Merak. Karena itu keberadaan x-ray dinilai sangat penting. “Pelabuhan menjadi salah satu jalur penyeberangan tersibuk dan menjadi penghubung utama antara Pulau Jawa dan Sumatera, sehingga perlu adanya alat pendeteksi narkoba yang lebih canggih,” paparnya, dalam rapat koordinasi yang dilakukan di Pelabuhan Merak, Rabu (11/12). Hadir pula dalam rapat tersebut, anggota Komisi III DPR RI dari F-PKS Adang Daradjatun, Kapolda Banten, Brigjen M Zulkarnain, Dir Polair Polda Banten Kombes Pol Imam Thobroni, Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banten Nafri, Kapolres Cilegon AKBP Defrian Donimando, General Manager PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferrry Cabang Merak, Supriyanto dan beberapa tamu undangan lainnya.
Nantinya, lanjut Heru, pemasangan x-ray itu, akan dipasang di pintu masuk dan keluar Pelabuhan Merak. Direncanakan, pada tahun 2014 nanti Pelabuhan Merak sudah memiliki alat pendeteksi narkoba tersebut. “Sebenarnya, kami sudah ajukan pemasangan pendeteksi narkoba itu, dan mudah-mudahan 2014 sudah bisa terealisasi,” ujarnya. Saat ditanya jumlah penggunan narkoba di Banten, Heru mengklaim pengguna narkoba di Banten menurun. Berdasarkan data BNN pengguna narkoba di Banten mencapai 172.553, atau menurun 0,8 persen pengguna yang sudah tidak menggunakan narkoba. “Kecenderungan pengguna narkoba di Banten setiap tahunnya menurun. Bahkan, angka pengguna narkoba di Banten secara nasional berada di urutan ke 25. Paling tinggi Papua, Aceh, dan DKI Jakarta,” terang Heru.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Almuzzammil Yusuf mengatakan, pihaknya mendesak Polri dan BNN agar menganggarkan alat deteksi narkoba pada Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2014. Dia menilai alat deteksi narkoba ini penting untuk diposisikan jalur transportasi perbatasan wilayah Indonesia seperti di Merak dan beberapa pelabuhan di Indonesia. “Alat pendeteksi di Pelabuhan Merak belum tersedia. Ini akan menjadi pintu masuk yang mudah bagi para pengedar narkoba di Jawa,” katanya.
Menurut Yusuf, peredaran narkoba tidak hanya terjadi di Pelabuhan Merak, pelabuhan lainnya juga perlu dipasang alat pendeteksi yang canggih. Pasalnya, para bandar narkoba sering kali memanfaatkan jalur-jalur pelabuhan yang sepi. “Banyak juga pelabuhan-pelabuhan tikus yang digunakan untuk peredaran narkoba. Jadi, kebutuhan pendeteksi itu sangat penting mencegah masuknya peredaran narkoba,” ujarnya. (mg-13/made)
